Hiruk Pikuk Permasalahan Abad ini


Pagi ini, seperti biasa. Rutinitas ngopi menjadi salah satu kegiatan produktif yang saya lakukan. Meski pada kenyataanya saya belum pernah menemui tema diskusi asik di setiap pertemuan ngopi dan ngudud para pengunjung warung. Setidaknya, sewaktu bangun tidur tadi, saya mengusahakan untuk membaca koran pagi langganan PC PMII yang selalu tergeletak di depan pintu.
Cerita singkat saja, koran pagi ini ramai pemberitaan dan opini mengenai hiruk pikuk permasalahan abad ini. Pertama, aksi terorisme di New Zealand tepatnya  terjadi penembakan brutal di dua masjid yang ada di Christchurch yang menewaskan total kurang lebih 40 orang.

Menurut saya  aksi terorisme ini sangat berlebihan dan tidak pantas jika dilaksanakan oleh manusia yang punya akal pikiran. Bagaimana tidak? Pekerjaan tersebut dilakukan semata-mata hanya untuk memuaskan nafsu keyakinan paham kanan radikal yang menganggap semua paham selainnya adalah salah dan perlu dibantai. Betapa keji dan munkar perbuatan semacam ini.  Begitu kira-kira kata banyak media yang terbit di percetakan.

Namun, penulis yakin, bahwa seluruh masyarakat akan memandang permasalahan ini dari berbagai perspektif yang berbeda. Bisa jadi akan banyak teka-teki yang muncul disini.

Pertama, penulis tertarik dengan sebuah referensi Menurut Black’s Law Dictionary, mengenai definisi terorisme. Dikatakan Terorisme adalah kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan atau yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia yang melanggar hukum pidana (Amerika atau negara bagian Amerika).

Terorisme dimaksudkan untuk: 
a. Mengintimidasi penduduk sipil. 
b. Memengaruhi kebijakan pemerintah.
c. Mempengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan atau pembunuhan.

Dari penjelasan pertama ini, kita juga perlu mengetahui asal muasal, penyebab, pun mengadakan sebanyak-banyaknya diskusi guna meningkatkan daya pengthuan dalam beberapa hal. Termasuk sebuah isu dan berita yang menyebar. Sebuah kenyataan muncul sebab terdapat sebab akibat yang melatarbelakangi. Jika mungkin aksi terorisme ini dianggap sebagai ketidaksepahaman identitas dan paham, atau bahkan penolakan terhadap toleransi beragama di suatu negara, sehingga korban yang berjatuhan melibatkan beberapa korban dari negara kita Indonesia, maka sebenarnya mengapa hal ini terjadi?

Dilain sisi, Pesta demokrasi April mendatang membutuhkan konsentrasi penuh masyarakat untuk mengakses, dan memahami konsep dasar dan tujuan dari setiap calon pemimpin. Desas-desus program yang dijadikan bahan pertimbangan masyarakatpun mulai luas di perbincangkan. Maka sebenarnya, diskursus mengenai isu-isu strategis mungkin dapat di carikan referensi yang lebih mendasar.

Dilain sisi, literasi mengenai perpolitikan di negara Indonesia masih selalu hangat di perbincangkan oleh berbagai tokoh. Seperti opini yang tadi tertera di Jawa pos, mengenai sosok pemimpin dan politik. Baginya pemimpin hari ini telah mengalami degradasi moral. Sebab, prioritas utama pemimpin sekarang adalah tujuan praktis dan keuntungan yang didapatkan dari sebuah jabatan. Orientasinya bukan sebuah perjuangan untuk memberikan sumbangsih pemikiran dan karya bagi negara.

Mengenai hal ini saya rasa ada betulnya, kita lihat saja dari kehidupan nyata organisasi ekstra kampus yang masih belum jelas bentuk gerakannya. Meski setiap organisasi memiliki tujuan jelas sesuai dengan ketetapan ad art dan termanifestasi dalam perbuatan. Namun, yang terjadi dilapangan tidak sesuai dengan ekspektasi. Bahwa, penentuan masa depan untuk dirinya ditentukan dari seberapa kuat menahan beban organisasi, dan penguatan ajringan di berbagai leading sektor.


Meski penguatan jaringan memang penting, sebab tanpa itu semua kompetensi dan skill kita tidak akan dilirik oleh banyak pihak. Namun sesungguhnya perjuangan, karya, dan sebuah kesolidanlah yang akan menumbuh kembangkan pemikiran , pun gerakan untuk negara.

Saya tidak ingin membicarakan orang lain. Cukup saya saja sebagai contoh. Saya masih sangat kurang dalam penguatan jaringan. Skill menulis yang saya punyai ini masih sangat membingungkan. Pengembangan kapasitas selalu mencoba saya terapkan, meski sangat sulit sekali diistiqomahkan.
Tiba-tiba beberapa menit terlewat, muncul berbagai pemikiran muncul. Hati saya berkata :

"Jika ingin menjadi penulis seharusnya saya harus selalu mencoba menulis apapun yang telah saya baca, dan dapati mengenai realita yang berkembang setiap saat. Selaij itu, mendekat, bercengkrama, dan bermuwajjahah langsung dengan para tokoh penulis". Begitupun dengan hobi dan passion lainnya.


Maka disini dapat saya ambil kesimpulan. Bahwa penentuan masa depan dimulai sejak detik ini, dalam setiap pengembangan ide dan gagasan yang sering muncul pada setiap tulisan. Meski masih sulit terucap lewat publicly speaking yang baik dan sopan.

Saya bersyukur , saya diperkenalkan dengan para sahabat sesuai dengan berbagai karakter yang unik. Artinya, saya akan banyak belajar untuk membawa pengalaman menghadapi situasi , dan sifat agar mampu menghadapai sebuah peradaban yang kian bertandan.

Salam literasi.
Salam hangat bagi yang menikmati rasa campuran kopi dan berhasil menyeruput tegukannya pada setiap pagi dan hari.


Tulisan ini terangkai, saat penulis sedang menikmati Kopi hitam Khas , tepat pukul 10:18 WIB, Sabtu, 16 Maret 2019 di Warkop Copitalist, Mas agus. Jl. Pondok Pinang, Bojonegoro.


Penulis adalah Siti Ainur Rodhiyah (Sekretaris PC PMII Bojonegoro 2018-2019)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan terbesar seorang laki-laki adalah perempuan.

Aku Heran