Revolusi Secangkir Kopi


Buku : Revolusi Secangkir Kopi
Penulis : Didik Fortunadi
Jumlah Halaman :446
Peresensi : Siti Ainur Rodhiyah

Buku ini menceritakan sebuah kisah heroik dari kalangan mahasiswa aktivis. Lakon utama dalam cerita adalah didik, yang sempat menganggur selama setahun di rumahnya desa gedok, blitar sebab pernah mengalami kegagalan dalam pendaftaran awal study di sebuah universitas dalam pilihan jurusan. Kegagalan itu tak lantas membuatnya pasrah pada keadaan. Dirinya berupaya keras untuk belajar dan menekuni soal-soal tes tulis pada saat daftar perguruan tinggi. Proses itu ternyata menuaikan hasil maksimal. Ia mampu melahap soal demi soal pada lembaran kertas sehingga pada pengumuman kelulusan di sebuah koran namanya tercantum sebagai mahasiswa resmi di ITB (Institut Bandung) jurusan geologi.

Meski sebenarnya ia tak begitu handal dalam jurusan yang dipilih. Namun upaya untuk menekuni sebuah jurusan ini adalah jalan satu-satunya sebagai harapan masa depan orang tua dan dirinya sendiri tentunya.

Didik selalu dihadapkan Berbagai kisah kehidupan yang tragis sebab keadaan ekonomi dan tekanan pemerintah. Terbukti dengan salah seorang bapak yang mencoba gantung diri karena anaknya gagal dalam pendaftaran guru PNS. Dilansir dari informasi yang beredar ternyata hal ini disebabkan oleh keterlibatan si ayah pada organisasi besar PKI.

Singkat cerita didik melewati berbagai proses sekelompok mahasiswa dari kalangan pemuda PSIK atau sebuah ormawa ITB. Para pemuda ini menghabiskan waktunya di kampus pada sebuah camp agak berantakan dekat area halaman kampus. Berbagai kegiatan mulai dari memasak, ngopi, rokok, hingga proses  kaderisasi terlaksana disana. Bahkan ciir khas dari camp ini adalah meja reot yang tertuliskan "REVOLUSI DARI SECANGKIR KOPI". Hal ini dimaksudkan bahwa ruangan ini merupakan saksi sejarah sebuah aktivitas progresif sebagai proses pendewasaan dan keintelektualannya diri para mahasiswa.

Dalam sebuah cerita tentu akan terjadi suatu konflik. Kisah ini bermulai dari keputusan skorsing yang di luncurkan Rektor pada Yos dan Mei, 2 mahasiswa berbeda jurusan. 2 semester untuk Yos dan 3 semester untuk Mei.

Sontak saja hal ini mendatangkan respon dari berbagai kalangan mahasiswa jurusan, UKM, serta kaum kritis PSIK. Para anggota ternyata telah beri'tikad untuk berdiskusi guna menindaklanjuti problematika kehidupan kampus ini. Anggota PSIK merasa alasan skorsing yang dilayangkan rektor tidak rasional, dan menganggap bahwa persolan ini tak ubahnya seperti sebuah tekanan dari atasan. Kondisi orde baru mendatangkan drama tersendiri dari pihak pemerintah guna mematikan kondisi kampus, dan berniat mematikan kekritisan mahasiswanya agar tutup mulut.
"Jika mahasiswa disibukkan dengan urusan perihal kampus, maka diharapakan kita melupakan persoalan kritik terhadap pemerintah. Kemudian para pihak menggunakan otoritas kekuasan dan mulai membatasi gerak mahasiswa lewat pimpinan kampus". Begitu kiranya analisis tajam dari seorang para anggota PSIK.

Berbagai rencana aksi di laksanakan untuk pencabutan 2 mahasiswa dari skorsing. Pasukan yang dinamai dengan "SATGAS" menyiapkan serangkaian gagasan guna membombardir pertahanan kesewenang-wenangan para pimpinan. Satgas kala itu di pimpin oleh sawal. Seorang mahasiswa kakak tingkat didik di jurusan Geologi.

Di setiap aksi didik selalu membantu menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Mulai dari menyetel spanduk di jalanan sebab mengikuti langkah kakak seniornya, hingga menorehkan pilok pada kain, spanduk, dan tembok dengan berbagai tulisan hasil diskusi para satgas. Didik yang merupakan ketua kelas geologi ini juga terlibat sebagai promotor gerakan pada mahasiwa angkatan 94'. Ia mampu mengkondisikan para mahasiswa untuk merapatkan barisan dalam perenungan nasib 2 mahasiswa. Meskipun tak seluruhnya ikut, namun usaha Didik bersama Charly (Salah satu sahabat sekelasnya sejak menjadi mahasiswa baru di jurusan Geologi ITB) saat berbicara perihal Kaderisasi di kelas ternyata menuai hasil.

  Waktu itu si didik meminta izin untuk berbicara pada teman sekelasnya mengenai kaderisasi. Ia mengungkapkan bahwa terdapat sistem kaderisasi yang berhasil dan mencapai tujuan bersama di sebuah negara. Salah satunya adalah PKI (Partai Komunis Indonesia) yang mampu mengakomodir gerakan hingga berjuta rakyat bergabung dalam organisasi ini. Artinya, sistem kaderisasi berdasarkan paham komunisme atas kesamaan rasa, dan derajat ini memiliki anggota yang sadar nasionalisme, mencintai tanah air dan bangsa. Sama halnya dengan angkatan ITB 93, maka sudah sepatutnya melaksanakan kaderisasi untuk menguatkan komunikasi, pertahanan, dan ketangguhan mahasiswa. Dan Bernai berkata iya jika benar, dan tidak jika salah.

Didik juga sempat merasa terpuruk bukan perihal cinta. Melainkan keputusan pahit darinya sebab tidak berangkat ke Jakarta untuk aksi besar oleh sahabat-sahabat PSIK bersama para mahasiswa kampus luar sebagai usaha pembebasan skorsing Yos dan Mei. Waktu itu, didik merasa hanyut dalam keheningan. Hati berkecamuk karena mengingat bapaknya yang harus memeras keringat pergi ke sekolah dan mengajar dengan upah seadanya hingga harus menjual petak demi peran tanah agar dapat membiayai ke 4 kakaknya ke perguruan tinggi. Dada semakin sesak hingga mencekik pertahanannya saat kembali mengingat pesan ibu untuk tidak melakukan perlawanan pada kampus agar ia cepat lulus tepat waktu dan bekerja menuju masa depan.

Namun didik tak pernah berhenti. Satu keputusan pengecut yang dianggap dirinya bentuk ketidaksetikawanan, tidak berideologi, dan gagal membuat ia bangkit dan selalu beristimoha berbagai, serta melakukan berbagai kegiatan produktif lain bersama sahabat seperjuangan PSIK.

Setiap kejadian yang ia anggap tak biasa dalam hidupnya seolah mengurai petuah kongkrit dalam hidupnya. Tak lupa ia selalu menulis bermacam trik kepemimpinan dari kehidupan masa mudanya yang Yangtze teradopsi dari kehidupan sosial.

"Pemimpin harus satu atau dua tahap lebih maju dibanding anak buahnya. Kalau setara, ia tak akan diikuti. Kalau terlalu jauh, ia akan dianggap gila". Begitu bunyi salah satu pemikiran revolusioner seorang tokoh didik.

Seolah Seperti mengurai benang  saja kisah mahasiswa ini. Sebab panjang sekali rentetan peristiwa dalam hidupnya.
Keterlibatan didik Saat menjadi mahasiswa tingkat akhir yang ikut serta menikmati kisah reformasi.  Ia bersama jutaan mahasiswa menentang rezim Soeharto. Segala hiruk pikuk kehidupan kampus dan segala bentuk represi dari pemerintah pada rakyat hingga kalangan mahasiswa. Diiringi oleh bentuk perlawanan kaum idealis yang memiliki prinsip hidup "Satu barisan dan satu jiwa".

Siapapun yang membaca buku ini akan mendapatkan kesan bahwa segala bentuk pemikiran saat menjadi mahasiswa dan proses kehidupan beserta geraknya adalah yang terpenting. Terlepas membicarakan perihal orientasi hasil yang didapatkan. Betapa romantisme pergerakan tercipta dalam balutan usaha untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa, rakyat yang sebenar-benarnya rakyat, dan bangsa yang sadar posisinya sebagai bangsa.

Salam literasi.
Salam hangat untuk para penulis di negri ini.
Siti Ainur Rodhiyah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan terbesar seorang laki-laki adalah perempuan.

Hiruk Pikuk Permasalahan Abad ini

Aku Heran