"I'IN : Sebuah Aktualisasi Diri, Spirit Mengeja Potensi Anggota PMII"

Terlampau sering muncul diksi mengenai dunia dan perihal isi kehidupannya. Terutama dalam lingkup pergerakan. Telah kita ketahui bersama, organisasi kepemudaan yang bergerak dalam bidang pengkaderan serta berorientasi pada pengembangan potensi para kader adalah Pergerakan Mahasiswa  Islam Indonesia (PMII).

Sebuah organisasi yang tumbuh subur selama 58 tahun yakni semenjak 17 April 1960. Berdasarkan dinamika yang berlangsung saat ini, maka PMII menjadi wadah paling tepat  guna melatih kebebasan berpikir, bergerak bagi mahasiswa.

Seiring dengan zaman yang bergulir, maka setiap individu akan terlahir. Berbagai karakteristik manusia terkisah dalam berbagai bentuk aktualisasi nilai-nilai kehidupan. Semakin individu  itu tumbuh, maka ia akan mampu menentukan nilai yang tepat dalam pemenuhan hak-hak asasi dalam internal dirinya. Namun, terkadang hak tersebut sulit terwujud, sebab masih banyak seseorang yang khawatir akan nasib hidup-nya ke depan. Hal ini wajar, mengingat semakin hari tantangan selalu muncul di era millenial.

Mengenai hak asasi penulis mengingat pernyataan dari tokoh cerpenis, novelis, kolumnis, dan penulis hebat dari tokoh pergerakan, sebut saja Bung Mahbub Djunaidi, yakni :
Tanamkan ke kepala anak-anakmu bahwa hak asasi itu sama pentingnya dengan sepiring nasi".

Tentu kita semua mafhum, bahwa minimnya kepercayaan diri seseorang menjadi pengaruh utama kebingungan menentukan arah gerakan. Sebab itu, referensi dari para pendahulu menjadi penting di pelajari. Hal ini dapat terealisasi melalui silaturrahim. Selain itu, meningkatkan kecakapan diri melalui literasi adalah ketepatan bagi para pemuda. Penulis menegaskan bahwa literasi tak melulu bicara persoalan menulis dan membaca.
Berikut beberapa referensi mengenai literasi :
~Istilah literasi dalam bahasa latin disebut sebagai Literatur yang artinya adalah orang yang belajar.
~Selanjutnya National Institut for Literacy sendiri menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.
~Education Development Center (EDC)juga turut menjabarkan pengertian dari literasi, yaitu kemampuan individu untuk menggunakan potensi serta skill yang dimilikinya, dan tidak sebatas hanya kemampuan baca tulis saja.

Hemat penulis, ketika individu memiliki suatu potensi diri dan dapat menganalisis secara padu. Mengetahui kekuatan, hambatan, kekurangan, sekaligus peluang. Maka suatu jati diri serta bakat akan tercipta hingga mengakar. Namun, menjadi suatu kemubaziran jika hal demikian tak diasah, dilatih, dan diistiqomahkan. Tak bakal terwadahkan, selalu tersembunyikan, lalu terisolirkan.

Pengembangan potensi dapat di laksanakan dengan kebebasan berpikir dan bergerak. Setiap orang akan menemui batas maksimal dirinya ketika telah melalui berbagai proses pembelajaran. Ketika individu mampu melewati berbagai tantangan dan pertentangan dalam dirinya maka akan tercipta ruang gerak yang dinamis.

Seseorang dapat bernafas seimbang dalam berbagai hiruk pikuk keadaan. Berbagai problematik yang datang dituntut agar segera  diselesaikan. Maka dipastikan bentuk gerakan baru akan muncul seiring dengan uraian dan gagasan. Hal ini Selaras dengan perkataan Ahmad Taufik, selaku Penasehat IKA PMII Sunan Giri bahwa :
"Gagasan besar akan tercipta dari zona tidak nyaman".

Selain itu, telah terdapat banyak  alumnus yang senantiasa bergerak dinamis pada setiap level kepengurusan dalam menjalankan roda organisasi. Selanjutnya, dukungan dan sumbangsih selalu diberikan guna keberlangsungan proses kaderisasi. Bahkan, terhitung sampai saat ini, para alumnus selalu Sudi menyediakan waktu bermuwajjahah dan membicarakan tentang kaffahlah gerakan yang dibangun berdasarkan argumentasi, pun sebuah pondasi kokoh, berupa keintelektualan, kemampuan, serta kesiapan mental menjangkau masa depan bangsa dan negeri.

Sosok-sosok tersebut merupakan penerus bangsa dari para punggawa pada zamannya. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Beberapa waktu silam telah lahir para kader pejuang yang terjaga keloyalitasannya hingga sekarang. Sejak menjadi pemuda yang melawan, hingga menentukan langkah dengan berpegang pada prinsip "FREE MARKET OF IDEA".

Para alumnus selalu menginsyafi bahwa setiap kader PMII memiliki Ghiroh berpikir, berjuang, bergerak dari waktu ke waktu. Semakin besar tantangan yang dihadapi, semakin kaffahlah pergerakannya. Sudah barang tentu, perlu tekad pun semangat besar untuk mencapai titik-titik tertentu dalam kehidupan. Kemudian, berbagai ilmu pengetahuan menjadi penting bagi kader. Sehingga segala perjuangan dapat dijadikan bekal dalam menentukan pilihan langkah.

Hal ini Selaras dengan perkataan Sueb Abdullah, Ketua  terpilih IKA PMII Sunan Giri bahwa :
"Kader PMII itu selalu semangat. Hanya saja ia harus telaten merawatnya"

Para almunus adalah orang tua yang selalu mengerti kebutuhan anaknya, membebaskan pemikiran, jalan, dan pilihan gerakan.

Maka sudah sepatutnya setiap kader memaksimalkan waktu guna mengeja potensi dalam masa proses-nya. Mengedepankan kualitas sekaligus membangun militansi diri sebagai wujud pembentukan role model untuk generasi selanjutnya.

Upaya aktualisasi diri dalam mengeja potensi masing-masing harus disadari bersama. Selanjutnya, perlu adanya sikap mengejawantahkan segala ilmu pengetahuan guna membangun generasi bangsa yang lebih beradab, berkarakter, dan potensial. Hal ini bersifat fardhu a'in bagi mereka yang berilmu dan mengetahui keilmuannya.

Selamat mencoba,
Selamat menceritakan jejak langkah pada setiap aksara.
Selamat mengeja potensi diri.
Selamat membaca dan menulis.
Salam perlawanan untuk pemuda kita.
Salam hangat saya, Siti Ainur Rodhiyah

Kamis, 07 Februari 2019
Pukul 2:26
Di Kota Bojonegoro

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan terbesar seorang laki-laki adalah perempuan.

Hiruk Pikuk Permasalahan Abad ini

Aku Heran