Senja

Kemarin waktu jalan, kami berencana ngopi dekat pantai. Saat itu suasana grimis tanpa henti. Ketika melewati jalan naik dan penuh liku. Rupanya alam menghendaki hujan, cukup deras. Kami memutuskan berteduh.

Setelah beberapa lama, hujan terlihat reda. Kami  berdua bersepakat kembali turun dari dataran tinggi menuju jalan landai. Setelah secara otomatis, kami melanjutkan ibadah ngopi di kota.

Sesampai di jalan landai. Seperti biasa, dia mencari jalan pintas untuk pulang guna menikmati suasana yang berbeda. Begitu alasan rasional dirinya yang selalu dilontarkan pada saya, setiap kali  saya menanyakan mengapa ia melakukan hal demikian? Bukan menjadi suatu masalah bagi saya.

Tepat ditengah jalan pintas. Tiba-tiba ia memanggilku secara mendadak untuk menunjukkan suatu pemandangan yang hanya datang  saat sore menjelang malam. Itu adalah senja.

Sontak saja, sungguh saya akui. Saya benar-benar menikmati keindahan senja. Selanjutnya, ia menawari saya untuk berhenti sejenak dan bermaksud memotret. Bisa jadi menjadi model di hpnya.

Tentu saya cukup senang. Meski mungkin suasana banjir tepat di bawah senja itu membuat beberapa kesedihan bagi para petani. Dilain sisi, Pemandangan tersebut merupakan salah  satu bentuk keindahan alam, pun menjadi bukti kuasa Tuhan.

Ia memotretku dengan berlatarkan senja merah kekuning-kuningan. Usai foto sendiri, saya merayunya untuk foto bersama, syukurlah dia  tak menolak. Meski notabenya ia ini agak kurang  doyan Selfi.

Setelah sesi pemotretan selesai, kami melanjutkan perjalanan. Ehh, setiba di ujung jalan. Banjir menutupi hampir seluruh jalan. Alhasil kami putar balik. Kami tertawa bersama sambil menikmati gerimis.

Setengah perjalanan pulang, ia mencium kepulan asap jagung bakar. Lalu menawari saya. Tanpa pikir panjang saya meng-Iyakan. Lalu kamu memutuskan membungkus jagung bakar.

Ketika melanjutkan perjalanan, hujan kembali turun. Kami berteduh di depan toko yang sudah tutup dan sepi. Kami duduk di teras sambil menikmati jagung bakar pembeliannya tadi dan menikmati alunan lagu di hpnya. Saya perhatikan ia ini sedang asik dengan hp. Saat saya lihat ternyata ia sedang sibuk membuat video dengan foto diri saya bersama senja. Sambil terlihat berusaha merangkai kata. Ia sempat memintaku untuk merangkai kalimat. Seketika, saya tersenyum dan bilang bahwa ingin dirinya saja sebagai perangkai sekaligus pencipta video.

Hujan terlihat reda. Kami memutuskan geser dari tempat berteduh. Ia berkehendak mengantar saya kembali ke tempat menginap. Di tengah perjalanan, saya diam saja tak bersuara, tak seceria biasanya menuju kota. Ia kebingungan dan terlihat agak sedih memang. Sebab notabenya aku selalu cerewet. Jujur saja, saya merasa momen ini terlalu sebentar. Intensitas pertemuan tersebut belum mendatangkan esensinya, meski itu hanya menjadi alasan saya untuk berlama-lama jalan bersamanya.

Akhir cerita, saya kembali ke tempat penginapan. Ia pulang. Dan kami terlelap bersama rindu masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan terbesar seorang laki-laki adalah perempuan.

Hiruk Pikuk Permasalahan Abad ini

Aku Heran