"AKU YANG SEMAKIN NYARING DI DALAM SEPI"

"LAWU 3,265 MDPL"

Ahad, 22 Desember 2019

"Puncak adalah bonus, kisah perjalanan dan solidaritas adalah utama"

Rencana muncak menjadi kisah penutup tahun 2019. Memang benar, bahwa terlalu banyak wacana terkadang minim dalam implementasi. Begitupun sebaliknya banyak implementasi tanpa mengerti wacana adalah sebuah kebodohan. Namun kami Dua belas orang yang tergabung dalam team mencoba untuk memilih "Memperjelas wacana dan Mengimplementasikan". Mungkin asumsi ini cocok jika di realisasikan dengan berbagai usaha yang telah kami buat.

Dalam pergerakan, ketika kita tidak bergerak maka akan tertinggal. Namun gerak masif di awali dari kerja sama yang baik, kordinasi yang inten, dan persahabatan yang tulus. Hal ini bisa jadi tidak hanya ada di satu wadah apalagi cerita fiktif, melainkan kisah real pada semua lini kehidupan.

Berawal dari ide beberapa anak yang tergabung di adventure PMII, rupanya terselip ruang kecil menangkap ide dan menggaungkan rencana untuk menikmati alam yakni dengan mendaki. Tentu saja rencana ini di sambut baik. Beberapa hari berjalan, kami menyiapkan perlengkapan perang pendakian. Selain itu perbekalan mengenai fisik dan semangat telah kami kantongi di awal ide terbentuk.

Tepat hari Sabtu pada rencna awal pemberangkatan pukul dua siang. Kami menemui hambatan sejak pagi hingga menempuh perjalanan. Mulai dari mobil pick up yang gagal terpinjam hingga harus mengambil opsi lain dengan meminjam bus mini, ditambah beberapa kawan yang telat menuju titik pemberangkatan, hingga di tengah perjalanan daerah Ngawi ban mobil meletus, lengkap bersama hujan yang menyambut drama langkah kami.

Seketika itu beberapa kawan yang naik motor pun singgah di sebuah warung kopi sebentar sambil menunggu teman dalam bus mini sampai. Hingga beberapa jam kami memutuskan singgah di bascamp PMII Ngawi yang kebetulan tidak jauh dari lokasi ngopi. Sesampainya di bascamp, obrolan renyahpun terbentuk hingga menorehkan keakraban.

Saat cuaca mulai bersahabat kembali, sesegera mungkin kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Beberapa jam berlalu, dingin sudah mulai menyatu dengan badan. Rupanya ini tanda-tanda kami memasuki daerah Magetan hingga tiba di cemoro Sewu.

Cemoro sewu adalah titik bascamp pendakian gunung Lawu. Kali itu tempat peristirahatan menjadi poin penting, jadi kami memutuskan untuk tidur di emperan rumah yang tirai penutupnya di buka. Asumsiku keadaan ini adalah sebuah kesengajaan pemilik rumah untuk membiarkan calon pendaki pemula seperti saya dan pendaki-pendaki lain untuk merebahkan badan. Tak berpikir lama, Beberapa kawan dengan cekatan terlihat menyiapkan alat masak dan merebus mie di depan garasi, yang lain memilih tidur dengan sleeping bag yang meski dipakai hawa dinginnya masih menembus tubuh.

langit terlihat cerah, fajar tak pernah malu menyingsingkan parasnya. Inilah yang benar-benar ditunggu, memulai pendakian saat pagi datang. Di awali dengan sedikit berfoto di depan gerbang cemoro Sewu sebagai tanda bahwa kami pernah mengunjungi tempat ini. Di depan gerbang masuk beberapa tangan terlihat saling bertumpukan serta disambut hitungan satu hingga tiga, salah satu satu sahabat mengucapkan salam pergerakan, kami serentak mengucap "SALAM" sebagai tanda kami sedang merapal doa dan telah siap melaksanakan pendakian.

Inilah saat kisah perjalanan di mulai.
Salah satu kawan menyeletuk:

"Kalau di gunung kita harus saling egois, maksud saya egois adalah kita tidak boleh jaim, kalau merasakan segala hal bilang, capek, laper, dan lainnya. Nanti akan ada kata brigh berarti kita berhenti"

Beberapa sahabat saling bersautan
"Siapp".

Saat Beberapa meter kami tempuh, salah satu sahabat tiba-tiba duduk lemas. Ia tidak mengeluh sama sekali sebelumnya. Namun wajahnya terlihat pucat, bibirnya putih dan tubuhnya berkeringat dingin. Kami berhenti sejenak. Dan mengambil perlatan obat-obatan seadanya untuk meringankan beban sahabat kami. Beberapa lainnya dengan sigap memijat kaki, tangan, serta bagian kepala. Hingga beberapa menit berjalan, keputusan untuk memanggil penjaga adalah hasil akhir dari diskusi kami. Selanjutnya, dua sahabat turun kembali melapor pada penjaga. Tak lama, satu orang dari kejauhan terlihat menaiki motor. Rupanya ia adalah penjaga yang menjemput sahabat kami supaya beristahat di camp.

Kini tinggal Sebelas anak tertinggal di perjalanan dan melanjutkan arah langkah. Saat kami memutuskan "BRIGHT" dan beristirahat di sebuah pondokan yakni pos bayangan. Ada satu teman sedang mengambil kayu untuk pegangan untuk pendakian. Ia tak sengaja melempar kayu hingga tiba-tiba saja mengenai kepala salah satu sahabat hingga berdarah. Tisu dan air digunakan untuk memberhentikan sumber aliran darah tersebut, pada akhirnya ia memutuskan untuk tertinggal dan turun kembali serta di temani satu kawan lain yang merelakan diri menemani sahabat yang terlebih dulu turun di camp.

Sepuluh orang menjadi sisa jumlah team kami.  Mencoba memberanikan diri untuk menantang takut. Sesampainya di pos satu, keadaan team kami masih baik-baik saja. Sehat jasmani dan mencoba selalu menyehatkan rohani lagi-lagi untuk merapal doa. Namun ketika Perjalanan dilanjutkan menuju pos 2. Tiba-tiba hujan mengucur dari langit, gemericik air di pohon, sedikit angin melambaikan pohon, serta  bau sedikit ciri khas tanah yang basah menyertai perjalanan. Track batu licin menjadi tantangan untuk kami saling menunggu dan menanyakan keadan fisik masing-masing. Mantel plastik yang kami beli di toko menjadi bekal utama dan paling penting pada suasana seperti ini.

Tibalah yang di nanti, pos 2 Lawu. Tulisan terlihat dari kejauhan berada pada papan kecil. Beberapa tenda terlihat terpasang di pinggiran jalan dekat bebatuan. Satu warung terbuat dari gedek menjadi tempat singgah. Warung kecil yg cukup nyaman untuk istirhat ini sedang penuh dengan pendaki-pendaki. Kaum rebahan terlihat memdatai suudut warung. Team kami segera bergantian melepas mantel dan memasuki warung mencoba menyelundup lewat ruang kecil dan menyuwun sewu untuk duduk pada persempitan ruang yang ada. Kali itu hidangan gorengan , teh hangat, dan smeua yg hangat menjadi hal paling terenak pada persinggahan ini.

Saat berdiskusi kembali untuk melanjutkan perjalan tiba-tiba satu sahabat kami menggigil dan merasa kurang enak badan, ia telrihat lemas, dan mendongsongkan tubuh di pojokan warung. Dengan lugas sahabat lain mengambilkan sleeping bag dan matras untuk istrihat. Seketika itu otak kami bersliweran sedang memikirkan banyak hal. Mulai dari cobaan dia awal hingga akhir. Hingga beberapa sahabat kami merasa ragu melanjutkan perjalanan sampai puncaknya terdapat kalimat yang memutuskan untuk berhenti dan hanya empat anak menyatakan siap mendaki. Hingga menjelang malam, baru keputusan untuk turun kembali ke bawah menjadi keputusan terberat yang harus di ambil sekaligus di eksekusi pada keesokan harinya.

Malam itu penggigilan di mulai, meski telah berselimut seeping bag. Badan masih terasa di tusuk" oleh dingin. Kami berjajar tidur di warung pos 2 sambil memeluk erat tas, badan kami sendiri dan selalu tidak pernah berhenti menanyakan kabar meskipun di jarak yang paling dekat sekalipun.

Akhirnya, Meski kami tidak sampai puncak. Kami yakin, kami tidak pernah merasa kehilangan sesuatu, ataupun meninggalkan sesuatu. Penyesalan adalah jalan untuk melatih emosi dan perasaan. Banyak pembelajaran dalam perjalanan, bahwa di atas gunung tidak ada yanv lebih berharga selain persahabatan. Kami sudah berani mengambil keputusan melaksanakan pendakian sekaligus memberhentikan langkah. Sebab keberanian ini harus juga di kendalikan oleh keadan sahabat kami yang sakit dan berada si bascamp hingga lekas memulihkan keadaan.

Mengutip kalimat  prmodeya anta Toer bahwa :
"Hidup harus berani, menang kalah lain lagi. Cuma orang-orang berani yang bisa menakklukkan 3/4 dunia".


Selamat melanjutkan aktivitas produktif lain sahabatku.

Seduh kopimu, lanjutkan gerakmu, dan abadikan dengan literasimu.

#KOPI, BUKU, CINTA


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan terbesar seorang laki-laki adalah perempuan.

Hiruk Pikuk Permasalahan Abad ini

Aku Heran