Resensi buku "Rectoverso"
Resensi buku
Peresensi : Siti Ainur Rodhiyah
Judul : Rectoverso
Karya : Dewi Lestari (Dee)
Halaman : 154
Usai membaca buku karya Dee Lestari berjudul Rectoverso menyeret kita pada realita kehidupan saat ini. Buku ini berisi beberapa cerpen dengan gaya bahasa yang dikemas secara apik, luwes sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Seuntai kalimat puisi yang menyertai awal cerita cerpen juga menjadi ciri khas tersendiri. Alur ceritanya juga dapat mengaduk-aduk perasaan pembaca secara beruntun.
Salah satunya adalah Cerpen berjudul malaikat juga tahu. Di ceritakan pada awal cerita. Kisah persahabatan baik seorang lelaki dan perempuan yang sering menghabiskan waktu bersama. Lelaki yang akrab di panggil abang ini memiliki bunda yang tulus, dan 3 saudara termasuk dirinya.
Pertama, Kakaknya. Seorang gadis yang telah meninggal dan belum sempat lulus SD karena penyakit langka. Kedua, Adik bungsu laki-laki yang kata banyak orang memiliki kesempurnaan sebab di karuniai kecerdasan dan ketampanan. Terakhir, dirinya. Anak kedua yang dilahirkan dengan mengidap penyakit autis. Tak pernah ada perkembangan seputar keadaanya setiap kali bundanya mengadu pada seorang dokter.
Suatu ketika, bunda menemukan surat-surat cinta yang ditulis abang. Surat ini ditujukan kepada sahabat perempuan yang setiap seminggu sekali menghabiskan waktu bersama abang.
Namun ada kenyataan yang harus diterima bahwa sahabat perempuan itu telah menjalin hubungan dengan adik bungsunya. Bunda selalu meminta agar mereka menyembunyikan hubungan tersebut selamanya. Bunda memohon kepada perempuan tadi untuk tetap menjadi sahabat abang selamanya.
Tapi suatu ketika anak bungsunya memilih pergi bersama perempuan itu. Tinggallah bunda bersama abang, yang setiap minggu melempar dan menghamburkan benda seisi rumah karena sahabat perempuannya tak pernah hadir lagi. Bunda hanya menangis dan bergumam bahwa benar kata perempuan itu "Dirinya bukan malaikat yang tau siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama".
Tapi semua itu tak penting, bunda hanya tau bahwa " Cintanya adalah paket air mata, dedikasi, dan keringat agar dunia menjadi tempat indah dan masuk akal bagi seseorang". Ya. Cintanya bukan baginya. Tapi untuk abang, putra keduanya. Bahkan bunda tak punya waktu untuk mencintai dirinya sendiri. Maka tak perlu ada kompetisi untuk memenangkan persoalan cinta ini, karena malaikat pasti tahu siapa juaranya.
Firasat, menjadi judul cerpen kedua yang sangat apik menurut saya. Dikisahkan gadis yang memiliki antusias tinggi pada sebuah komunitas firasat. Disini, Orang-orang yang dikaruniai kelebihan perasa, indra ke 6, dsb. Mereka berkumpul untuk berbagi pengalaman dan cerita. Tapi berbeda dengan gadis ini. Alasan mengikuti komunitas tersebut bukan hanya untuk berbagi kepada teman yang lain, melainkan karena mengagumi ketua komunitas tersebut. Ia beranggapan bahwa ketuanya memiliki pengetahuan, karisma, dan kebijaksanaan yang berbeda dari kebanyakan orang-orang di lingkaran pergaulannya.
Pada suatu moment, gadis ini di ajak kerumah ketua komunitas yang hidup di sebuah kos kecil. Tidak ada yang menemani kecuali satu anjing di halaman dan sepasang kekasih, yakni suami istri tua yang tinggal tepat di samping kosnya. Mereka tak memiliki anak. Sehingga hubungan keluarga begitu erat terjalin antara ketua komunitas dengan sepasang kekasih itu.
Awal pertemuan 4 mata ini menghasilkan suatu keterkejutan. Karena ketua komunitas mengatakan bahwa ia akan menemui keluarga di daerah tempat kelahirannya. Sontak saja, gadis ini kaget, kecewa, namun ia tetap memilih diam.
Suatu ketika, gadis yang semula diam dan rak pernah mengucap sepatah katapun di setiap forum yang diadakan oleh komunitas firasat. Ia mengagetkan banyak orang saat memberanikan diri untuk bertanya persoalan takdir. Gadis ini bertanya "Untuk apa seseorang tahu sesuatu kalau tidak ada yang bisa di ubah? ". Ketua komunitas memberi jawaban " Kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu, benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu".
Di akhir kisah cerpen ini, ketua komunitas pergi ke tempat daerah asal keluarganya dan tidak pernah kembali lagi. Gadis tersebut hanya pasrah dan memaksa dirinya untuk menerima segala kejadian itu. Meski berat, sakit, dan penuh ketersia-siaan dalam hidup.
Menurut saya, ada beberapa kalimat dan pesan yang tersirat dalam cerpen firasat yang sangat menarik. Seperti cara agar kita bisa tahu pertanda firasat yang dikatakan oleh ketua komunitas bahwa "kamu harus cek ke dalam, ia meletakkan jari di dadanya, " dan cek ke luar. Pesan yang sama biasanya datang berulang. Lewat suara hati atau gejala alam. Dan biarpun kamu ingin menyangkal, seluruh sel tubuh kamu seperti sudah tahu."
Terakhir tutur kata ketua komunitas soal firasat bahwa "Kamu hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak, menyangkal, cuma bikin kamu lelah".
Buku Rectoverso bagi saya mampu memberikan ruang baru bagi pemikiran dan tidak pernah menghakimi para pembaca. Ia membungkus setiap kalimatnya dengan tegas namun tetap hati-hati. Membaca buku ini seperti mendapat kesegaran yang berangsur datang pada rongga pikiran.
Selamat membaca.
Selamat menulis.
Selamat berinovasi.
Selamat menjalankan ibadah action dalam kehidupan.

Komentar
Posting Komentar