HAN DAN GUSDUR
Namun, tak bisa dipungkiri. Keadaan pandemi yang terjadi hampir 2 tahun ini berimbas juga pada anak. Kita tentu tau, selain di bidang ekonomi, bidang pendidikanpun ikut terdampak. Bisa dibilang sangat besar.
Saat ini sekolah-sekolah diliburkan sebab harus mengikuti anjuran pemerintah. Perombakan besar-besaran sedang terjadi. Pendidikan yang semula dilakukan dengan Pertemuan tatap muka berubah menjadi online. Maka Metode Pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan).
"Kita harus bersabar dengan keadaan ini. Pandemi tak akan cepat selesai kelihatannya", ucap coco, salah satu kawan yang mengajak saya ngobrol di kontrakan.
Memang, esensi pendidikan bukan hanya soal seorang pendidik yang memberikan ilmu hafalan dan materi. Melainkan untuk membina dan mengembangkan kepribadian. Bahkan beberapa tokoh mengatakan bahwa pendidikan adalah salah satu proses pengubahan sikap serta tingkah laku.
Salah satu tokoh tersebut adalah Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar dewantara yang mengartikan pendidikan secara filosofis. Beliau mengatakan bahwa seorang pendidik harus memiliki 3 sikap atau di kenal sebagai "Konsep trilogi", yakni : Ing ngarso sung tulodho (yang di depan memberi contoh), Ing Madya Mangun karsa (yang di tengah memberikan/membangkitkan semangat), Tut Wuri Handayani (yang di belakang memberikan dorongan).
Anak dan pendidikan adalah satu kesatuan. Maka pandemi ini, seharusnya tidak menyurutkan semangat berbagai kalangan memberikan pendidikan untuk anak. Terutama pendidik, dan orang tua. Jika pembelajaran banyak di dapatkan di rumah, secara otomatis anak akan menghabiskan banyak waktu bersama orang tua.
Peran orang tua sangat besar di masa PPKM Level 4 ini. Antusias orang tua sangat mempengaruhi proses perjalanan anak dalam menerima pendidikan. Kesiapan orang tua menjadi sangat utama. Sebab, jika orang tua mungkin saja merasa lelah, banyak pikiran, bahkan emosi, hal ini rentan menimbulkan kekerasan pada anak. Bukan hanya secara fisik, namun psikologis. Hal tersebut mengingatkan saya bahwa usia produktif pernikahan juga menentukan kesiapan untuk menjadi orang tua.
Selain bicara soal hari anak nasional. Saya juga melihat postingan kawan-kawan yakni foto Dr. K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Beliau adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang pernah menjadi Presiden Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga 2001.
Saya yakin, sudah banyak yang tau soal sejarah perpolitikan di masa itu. Bahwa tepatnya 20 tahun lalu Gus Dur dimakzulkan di Senayan. Usut punya usut, ribuan mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi melakukan demo besar-besaran sebab kontra dengan Gus Dur. Maklum, banyak yang merasa terancam, maka jurus utama adalah menyerang tanpa pandang bulu, dan mengenal kemanusiaan.
Meskipun saat itu, Para pendukung setia Gus Dur serta puluhan ribu Kaum Nahdhiyyin telah bersiap mendukung dan menjadi garda terdepan untuk Gus Dur. Beliau mengambil keputusan melepaskan jabatan sebagai presiden.
Gus Dur berkata : "Yang lebih penting dari Politik adalah kemanusiaan".
Akhir kata. Semoga di hari anak nasional dan di hari Gus Dur dimakzulkan. Saya dan kita semua dapat mengambil hikmah-nya.
Sumberrejo,
Jum'at, 23 Juli 2021


Komentar
Posting Komentar