RESENSI BUKU "HARIMAU PUTIH"


Judul Buku : Harimau Putih
Penulis : Aravind Adiga
Halaman : 209
Peresensi : Siti Ainur Rodhiyah

Harimau putih adalah novel karya seorang penulis dari india, Aravind Adiga. Novel ini menceritakan tentang kesenjangan sosial yang terjadi di India. Korupsi, kemiskinan, perbedaan agama, suku, dan kasta merupakan kebenaran absolut di negara. Lakon utama bernama Balram Halwai yang secara Perlahan-lahan mencoba merangkak naik untuk menghapus kesenjangan dan meraih kemerdekaan bagi dirinya.

Di awal cerita novel ini, kita akan disuguhkan dengan Balram yang mencoba menceritakan keadaan negaranya kepada Tuan Jiabao, perdana menteri negara China. Balram memulai cerita dengan menuliskan kisah keluarganya.

Ia tinggal di sebuah desa kecil yakni Bengaluru, yang sering disebut juga dengan india gelap. Tinggal bersama anggota keluarga yang miskin dan miris. Ibunya meninggal sejak ia masih kecil. Sedang ayahnya adalah tukang becak yang sering dijajah oleh si kerbau. Siapa si kerbau? Nanti kita akan tau di lanjutan cerita. 

Lahir di India Gelap adalah sebuah anugrah sekaligus musibah bagi Balram. Sebab, ia harus menyaksikan banyak realitas yang terjadi di negaranya. Kaum kaya dan kaum miskin seperti dualisme yang sangat jauh derajatnya. Tak bisa tidak, kaum miskin tak bernilai apapun di negaranya. 

Selain itu, Balram juga sempat membingungkan agama yang paling benar di negaranya. Ada 36.000.005 Dewa yang ia ketahui. Meski ia keturunan hindu sejati. Karena mayoritas penduduk di negaranya yang hindu selalu menindas satu sama lain, sedang kaum minoritas yang memiliki satu Dewanya, dianggap sering meletakkan bom di tempat besar seperti stasiun, tempat peribadatan agamanya dan tempat ramai lainnya.

Suatu hari, ayah balram berkeyakinan untuk memberikan pendidikan kepada Balram. Ayahnya yakin bahwa membaca dan menulis bisa menjadi bekal balram saat dewasa kelak. Selain itu, pesan terakhir dari mendiang ibunya agar balram melanjutkan pendidikan juga memupuk semangat ayahnya untuk melakukan hal ini. Meskipun, ia harus mengucurkan keringat setiap hari dengan memancal becak.

Kehidupan di India gelap begitu buruk. Barlam sangat benci terhadap tuan tanah dan tuan becak. Tuan tanah sering menghisap kehidupan para petani dengan memberikan harga kecil untuk hasil pertanian, dan mengeksploitasi tenaga buruh dengan upah yang paling sedikit. Sedang, tuan becak adalah para tuan yang sering meminta hasil uang dari para tukang becak dan memberi upah tidak layak. Tuan tanah inilah yang sering disebut Si Kerbau oleh Balram.

Saat balram di bangku sekolah ia di ajar oleh seorang guru yang memakan hak kaum miskin. Bagaimana tidak? Murid-murid di kelas tidak pernah mengenakan seragam, tas, dan alat tulis lainnya secara layak. Padahal bantuan dari pemerintah selalu dikucurkan bagi setiap sekolah di India gelap. Ternyata, bantuan-bantuan itu di angkut oleh truck dan disembunyikan oleh gurunya agar dapat di jual secara terpisah kepada para murid di sekolah maju di daerah lain. Itu berarti, korupsi. Ya. Hal wajar yang terjadi di negaranya.

Suatu ketika, ayah Balram sakit. Lalu di bawa ke Rumah Sakit yang dibangun oleh pemerintah. Saat ia berkunjung kesana, ternyata para pasien sedang mengantri di lantai depan ruangan karena tidak ada 1 pun dokter yang hadir untuk mengobati. Tiba-tiba, ayah Balram memuntahkan darah dari mulutnya dan mati seketika di rumah sakit mewah yang miskin penghuni.

Pasca ayahnya meninggal, Balram tumbuh menjadi pemuda yang lugu, jujur, dan percaya diri. Ia ingin menjadi seorang sopir. Sopir adalah pekerjaan yang dapat meningkatkan status sosial di lingkungan masyarakat. Dengan berbekal uang hasil menjual kerbau oleh neneknya bernama kusum. Syarat yang diajukan neneknya cukup sederhana. Ya, mengirim gaji balram untuk keluarganya di setiap bulan untuk mencukupi kebutuhan di desa. Kemudian, balram berangkat ke laxmangar. Daerah dimana ia akan berlatih menyopir mobil dan menemukan tuan barunya.

Setelah pandai menyopir. Kini ia menjadi sopir tuan ashok. Ternyata, tuan ashok adalah putra dari si kerbau, penjajah bangsanya sendiri di desa. Meski begitu, balram tetap menjadi pelayan yang setia. Apa maksudnya pelayan? Ya. Begitulah kenyataannya. Sopir adalah pelayan. Pelayan adalah sopir. Di laxmangar, dua profesi ini tidak terpisahkan, sopir haruslah juga menjadi seorang pelayan yang patuh melaksanakan perintah tuannya.

Selain bersifat lugu dan setia, Balram tumbuh menjadi sopir sekaligus pendengar yang baik. Saat tiba masa perpolitikan di negaranya dan masa pilkada sedang gencar dilakukan oleh partai Sosialis besar. Ia sering menemani para tuan besar bertemu dengan orang istana dan perdana menteri. Apa hubungan si kerbau, tuan ashok dengan para orang istana? Hubungannya adalah timbal balik. Jadi, si kerbau menyerahkan hasil jajahan atas bangsanya sendiri kepada para elite politik untuk mensukseskan pilkada. Jika tidak menyerahkan, maka ancaman, represi, dan hukuman akan dijejalkan kepada keluarga si kerbau.

Konflik besar dimulai. Saat balram menyimpan botol besar bekas minuman keras di bawah kolong tempat tidur. Ia sempat bimbang dengan rencana yang akan dilakukan. Pada akhirnya, ia tetep memukulkan botol kaca yang keras kepada tuan ashok, dan menggorok lehernya. Ia kabur dengan banyak uang di koper milik tuan ashok dan lari mengubah nasibnya sendiri. Ia menjadi buronan.

Balram menciptakan kemerdekaannya sendiri. Ia mengorbankan keluarganya. Apa hubungan membunuh majikan dengan keluarganya? Tentu, hubungannya sangat erat. Bahwa ketika seorang pelayan membunuh para majikan. Keluarga pelayan secara otomatis terancam. Para penduduk desa akan mengusir keluarga pembunuh, atau keluarga korban pembunuhan dapat membayar kaum bayaran untuk menyiksa hingga mati satu persatu.

Setiap kali ia terbayang dengan kejadian pembunuhan dan keluarganya. Balram juga selalu mengingat perkataan paman beragama muslim, penjual buku bekas yang dijumpai di laxmangar dan pernah membacakan sebuah puisi kepadanya bahwa :
"Kau mencari kuncinya bertahun-tahun, padahal pintunya selalu terbuka".

Balram ingin menciptakan perubahan bagi negaranya. Maka, ia meminjam nyawa tuannya untuk memulai dan mewujudkan cita-citanya. Hal ini bisa saya lihat dari isi surat yang dilayangkan oleh Balram kepada Perdana Menteri China. 

Balram menulis :

"Kenapa tidak? Bukankah aku adalah bagian dari sebuah perubahan yang terjadi di negara ini? Bukankah aku sudah berhasil dalam perjuangan yang seharusnya dilakukan oleh kaum miskin india - perjuangan untuk tidak menerima cambukan yang diterima ayah kita, untuk tidak berakhir  dalam tumpukan mayat  yang akan membusuk dalam sungai gangga".

Selain itu, ia juga menuliskan bahwa setiap tokoh di dunia ini, termasuk perdana menteri China telah membunuh seseorang dalam perjalanannnya menuju puncak. Setiap yang membunuh dari golongan kaya akan dibuatkan patung perunggu  di dekat gedung parlemen di Delhi.

Balram mengatakan :

"Satu-satunya yang kuinginkan adalah kesempatan untuk menjadi seorang manusia - dan untuk itu,  satu pembunuhan sudah cukup".

Sejak saat itu pula, balram berubah menjadi pembisnis yang sukses. Ia mempunyai tempat persewaan mobil dengan para sopirnya. Ia memperlakukan sopirnya dengan baik, gaji yang cukup, dan tidak merendahkan para pekerjanya. Ia juga menyuap para polisi untuk mengamankan status buronannya.

Balram sadar, ia harus seperti binatang yang paling langka - makhluk yang hanya muncul satu kali dalam setiap generasi? Yaa, menjadi harimau putih.  Sosok yang cerdas, jujur, dan ceria di antara kawanan bajingan yang idiot.


Hemat saya, 

Selamat beraktivitas, beristirahat, dan menjadi pemimpi hebat yang bertekad bangun untuk segera mewujudkannya. Di masa pandemi ini, semoga kita masih bisa hidup dalam kedamaian berpikir dan bertindak. 

Salam literasi, 

Salam rahayu, 

Salam sehat dan kuat untuk kita semua. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan terbesar seorang laki-laki adalah perempuan.

Hiruk Pikuk Permasalahan Abad ini

Aku Heran